"NEKA hemong KUNI agu KALO"

Tragedi "sauh putus" awalmula munculnya nama "Manggarai"


Sahabat sejatiku adalah buku dan sebilah pena

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
(Pramoedya Ananta Toer)

Selamat datang di blog Pesona Manggarai

Selasa, 28 maret 2017
Kali ini, blog pesona manggarai akan mengulas kembali topik sejarah tentang  asalmuasal kata "Manggarai", sebuah kata atau nama  yang sekarang menjadi nama sebuah Kabupaten di Pulau Flores bagian barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.


Pesona Manggarai  menggarisbawahi kata "mengulas kembali" karena sebetulnya tulisan atau topik tentang sejarah Manggarai sudah lama di publikasikan oleh para pakar sejarah dan  tokoh - tokoh yang kompeten di bidangnya, yang dengan susah payah menggali berbagai sumber melalui penelitian dan observasi yang mendalam serta berbagai cara lain yang mereka lakukan sehingga sejarah tentang Manggaraipun akhirnya bisa dibukukan dan di nikmati oleh banyak orang sampai hari ini.
Oleh karena itu, ucapan syukur dan terimakasih pesona manggarai ucapkan kepada para tokoh dan para pakar sejarah yang telah membukukan dan mewariskan sejarah ini sampai hari ini.

Pesona Manggarai sebagai bagian dari sejarah dan masyarakat Manggarai,  ingin mewariskan kembali sejarah ini kepada generasi baru yang akan datang, agar mereka tidak hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Oleh karena itu, kali ini Pesona Manggarai ingin menulisnya kembali dengan merangkum dari berbagai sumber, agar topik tentang asalmuasal nama dan sejarah Manggarai ini semakin memperluas pengetahuan kita dan generasi baru yang akan datang tentang  Manggarai.

Manggarai merupakan nama sebuah Kabupaten di Pulau Flores, tepatnya di Flores bagian barat. Dulu Manggarai hanya terdiri dari satu Kapupaten dengan ibukotanya Ruteng. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, Manggaraipun dibagi menjadi 3 Kabupaten, yaitu : Manggarai Barat dengan ibukota Labuan Bajo (diresmikan pada 27 Januari 2003), Manggarai dengan ibukota Ruteng ( sebagai Kabupaten induk) dan Manggarai Timur dengan ibukota Borong ( diresmikan pada 17 juli 2007). Meskipun telah terbagi menjadi 3 wilayah  Kabupaten, tetap harus disadari terus-menerus bahwa keterangan barat dan timur itu hanya bersifat administratif pemerintahan. Tanah Manggarai sebagai tana mbaté disé amé (tanah warisan leluhur) tetap mempunyai satu spirit budaya, yaitu lonto léok bantang cama réjé léléng (musyawarah mufakat). Spirit itulah yang menyatukan ke tiga wilayah tersebut sehingga disebut sebagai Manggarai Raya.

Ada 2 versi sejarah yang melatarbelakangi munculnya nama Manggarai

Versi Pertama
Pasca kedatangan para pedagang dan pelaut dari Bima dan Goa

Sejak dahulu kala, Pulau Flores khususnya Manggarai telah menarik minat banyak suku bangsa, para pelaut dan para pedagang di Nusantara ini. Keadaan alam pulau Flores barat (Manggarai) yang selalu hijau karena diselimuti hutan belantara yang lebat dan pegunungan hijau yang menjulang tinggi diduga memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Para pedagang dan pelaut dari berbagai suku bangsa terutama dari Bima (Nusa Tenggara Barat) dan dari Goa (Sulawesi Selatan) pun tertarik untuk datang menyambangi  Pulau Flores bagian barat yaitu Manggarai. Dugaan para pedagang dan pelaut tersebut memang tidak keliru dan benar adanya. Kopi robusta atau arabika yang merupakan penghasilan utama masyarakat Manggarai saat ini membenarkan dugaan tersebut.

Karena penasaran akan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi Flores barat, para pedagang dari Goa Sulawesi Selatan pun datang menyambangi flores barat. Mereka berlayar menuju pantai utara Flores menggunakan perahu. Waktu para pelaut tersebut tiba di bibir pantai utara Flores dan ingin menginjakan kaki untuk pertama kali di pulau itu, tiba - tiba turunlah hujan deras disertai angin kencang dan lautpun seolah - olah marah dan mengamuk brutal. Perahu para pelaut dari Goa itupun terombang - ambing kesana kemari. Untuk mengamankan perahu dari amukan gelombang laut dan derasnya angin yang mengguncang kencang, juragan perahu itupun memutuskan untuk membuang sauh (berupa tali pengaman) agar tetap bertahan dari derasnya gelombang. Namun usaha mereka ternyata sia - sia, gelombang dan angin kencang semakin mengganas mengakibatkan sauh yang mereka lemparkan itupun putus. Demi menyelamatkan diri dari amukan gelombang yang semakin mengganas, para pelaut itupun mengurungkan niatnya untuk berlabuh di pantai utara Flores. Merekapun mengembangkan layar perahunya dan kembali ke daerah asal mereka di Goa Sulawesi Selatan dengan tangan hampa.

Setibanya mereka di daerah asalnya Goa Sulawesi Selatan, merekapun disambut gembira oleh keluarga dan sanak saudara yang mereka tinggalkan selama merantau. Warga di pelabuhan Goa yang juga sesama pelautpum menyambut mereka dengan gembira. Mereka berharap ada berita baru tentang pulau yang dikunjungi oleh juragan dan anak buahnya. Akan tetapi, mereka segera heran bercampur haru menyaksikan kondisi perahu dan anak buahnya yang tampak lesu. Banyak cat di badan perahu yang terkelupas, sauh perahupun sudah tak tampak dan beberapa bagian layar perahu tersobek - sobek. Barang - barang dan berbagai perlengkapan di dalam perahupun berserakan dan morat - marit. Semua itu merupakan pertanda bahwa perahu itu baru saja dilanda bencana.

Dugaan merekapun ternyata benar. Setelah juragan dan anak buahnya turun ke darat, merekapun menceritakan semua peristiwa dan pengalaman buruk yang baru saja mereka alami. Keluarga dan para tetangga yang ada di sekitar itupun bertanya - tanya, dimana peristiwa naas itu terjadi? Akan tetapi para awak peragu naas itu tidak bisa menjawab dengan pasti, karena mereka memang belum mengenal nama tempat itu. Mereka hanya mengatakan bahwa, tempat tersebut berada dekat pantai sebuah pulau yang subur, tempat sauh mereka putus.

Konon dalam bahasa orang Goa, "sauh" artinya "manggar", dan "putus" artinya "rai". Sehingga dalam bahasa orang Goa, "sauh putus" artinya "manggar-rai". Lama kelamaan di kalangan orang Goa, nama pulau yang subur tempat terjadinya peristiwa naas itu di sebut Manggarai. Bahkan seluruh pulau Flores mereka sebut dengan nama "pulau manggarai" atau "pulau sauh putus".

Nama Manggarai kemudian menyebar melalui para pelaut dan pedagang Goa ke Bima di Sumbawa, ke solor di Flores bagian timur dan terus menyebar ke tempat - tempat lainya. Nama Manggarai itupun diwarisi hingga saat ini, termasuk sebagai nama untuk Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai, Profinsi Nusa Tenggara Timur. 
Sumber : Drs. A.M. Fanggidae (editor) 2002, Himpunan Cerita Rakyat NTT.


Versi ke 2
Dampak dari kedatangan Empo Masur dari Sumatra Barat

Versi lain dari sejarah tentang asa - usul munculnya nama Manggarai adalah terkait dengan kedatangan Empo Masur seorang keturunan raja (Raja Luwu) dari Sumatra Barat.

Nama Manggarai berasal dari dua suku kata yaitu kata Manggar dan kata Rai. Kata Manggar diambil dari nama batu yang dibawa oleh Empo Masur seorang keturunan raja (Raja Luwu) dari Sumatera Barat. Watu Manggar yang artinya batu Jangkar yang biasanya digunakan untuk menahan Wangka (Perahu) ketika Wangka (perahu) berhenti. Sedangkan Watu Rai berarti batu asah yang digunakan untuk mengasah parang, tombak dan lain-lain oleh masyarakat setempat. Kedua batu ini merupakan dasar pemberian nama Manggarai.

Kedatangan Empo Masur berdampak pada perubahan nama tempat yang ia datangi yaitu dari nama Nuca Lale atau Lale Lombong berubah menjadi Manggarai. Hal ini menunjukan bahwa pada awalnya nama Manggarai adalah Lale Lombong atau Nuca Lale. Adanya perubahan nama Nuca Lale atau Lale Lembong menjadi Manggarai karena kedatangan Empo Masur membawa banyak perubahan untuk masyarakat setempat. Kehadiran Empo Masur melahirkan istilah Caci, sebuah tarian adat dan budaya masyarakat Manggarai yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Selain itu, beberpa peninggalan Empo Masur yang masih terjaga kelestarianya oleh masyarakat Manggarai sampai saat ini adalah Lodok Lingko, Mbaru Niang, Nggong, dan Gendang di Manggarai.

Itulah secuil sejarah tentang asal - usul menculnya nama Manggarai. Sejarah secara lengkap tentang masa lalu Manggarai memang sangat sulit ditemukan, karena pada zaman dahulu (menurut para pakar sejarah), para nenek moyang orang Manggarai pada masa itu belum mengenal adanya tulisan, sehingga informasi hanya dilakukan secara verbal oleh masyarakat. Sehingga banyak sejarah yang tidak terekam dan akhirnya hilang ditelan zaman.

Mewariskan kembali apa yang telah diwariskan oleh para pandahulu kita, itulah tujuan tulisan ini, agar tetap terjaga dan terus kita lestarikan.

Komentar, kritikan dan saran dari para pembaca sangat membantu kami (Pesana Manggarai) demi meningkatkan mutu dan kualitas tulisan - tulisan di dalam blog sederhana ini.

Akhir kata, saya dan Pesona Manggarai mengucapkan terimakasih dan sampai jumpa di lain hari.....


SALAM PESONA 

0 Response to "Tragedi "sauh putus" awalmula munculnya nama "Manggarai""

Pos Kupang

BREAKING NEWS

Latest Post
Loading...

Google+ Followers

Follow by Email